GEDUNG AL FALAAH LT. SB
Telepon : 021 – 8630654 , 8610471 ext.407
Artritis rheumatoid atau yang dikenal masyarakat awam dengan rematik merupakan penyakit peradangan sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis progesif dan melibatkan seluruh organ tubuh. Diperkirakan kasus Rheumatoid Arthritis diderita pada usia di atas 18 tahun dan berkisar 0,1% sampai dengan 0,3% dari jumlah penduduk Indonesia walaupun kebanyakan pasien yang ditemukan dengan usia lanjut. Guna menegakkan diagnosa , Dokter melakukan pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) yang merupakan antibodi yang sering digunakan dalam diagnosis RA. 75% individu yang mengalami RA juga memiliki nilai RF yang positif.
Gejala - gejala arthritis rheumatoid (RA) menurut kriteria dari American Rhematism Assiciantion (ARA) antara lain :
- Kaku pada pagi hari (morning stiffnes). Pasien merasa kaku pada persendian dan di sekitarnya sejak bangun tidur sampai sekurang-kurangnya 1 jam sebelum perbaikan maksimal.
- Artritis pada 3 daerah. Terjadi pembengkakan jaringan lunak atau persendian (soft tissue swelling) atau lebih efusi, bukan pembesaran tulang (hiperostis). Terjadi pada sekurang-kurangnya 3 sendi secara bersamaan dalam observasi seorang dokter. Terdapat 14 persendian yang memenuhi kriteria, yaitu interfalang proksimal , metakarpofalang, pergelangan tangan, siku, pergelangan kaki, dan metarsofalang kiri dan kanan.
- Artritis pada persendian tangan . sekuramg-kurangnya terjadi pembengkakan satu persendian tangan seperti tertera diatas.
- Artritis simetris. Maksudnya keterlibatan sendi yang sama (tidak mutlak bersifat simetris) pada kedua sisi secara serentak (symmetrical polyarthitis simultaneously) .
- Nodul reumatoid, yaitu nodul subkutan pada penonjolan tulang atau permukaan ekstensor atau daerah jukstaartrikular dalam obsrvasi seorang dokter.
- Faktor reumatoid serum positif. Terdapat titer abnormal faktor rheumatoid serum yang diperiksa dengan cara yang memberikan hasil positif kurang 5% kelompok kontrol.
- Terdapat perubahan gambaran radiologis yang khas pada pemeriksaan sinar rontgen tangan posteroanterior atau pergelangan tangan yang karus menunjukkan adanya erosi atau dekalsifikasi tulang yang berlokalisasi pada sendi atau daerah yang berdekatan dengan sendi.
Panderita dengan RA akan dilakukan pemeriksaan penunjang laboratorium , dimana pada pemeriksaan laboratorium tersebut biasanya ditemukan factor reuma yang positif , Protein C- reaktif yang positif , laju endap darah (LED) yang meningkat , Leukosit normal atau sedikit meningkat , adanya Anemia normositik hipokrom akibat adanya inflamasi yang kronik, trombosit meningkat dan Kadar albumin serum turub dan globulin naik.
Pada pemeriksaan rontgen , semua sendi dapat terkena, tapi yang tersering adalah sendi metatarsofalang dan biasanya simetris. Sendi sakroiliaka juga sering terkena. Pada awalnya terjadi pembengkakan jaringan lunak dan demineralisasi juksta artikular. Kemudian terjadi penyempitan ruang sendi dan erosi.
Pengobatan dan perawatan penderita RA berfikus kepada pendidikan penderita mengenai penyakitnya dan penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga terjalin hubungan baik dan terjamin ketaatan pasien untuk tetap berobat dalam jangka waktu yang lama. Pemberian obat – obat anti infflamasi dan anti nyeri , Obat – obat rematik ( DMARD) yang digunakan untuk melindungi rawan sendi dan tulang dari proses destruksi akibat artritis rheumatoid , serta Rehabilitasi yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup penderita.
Penderita RA dianjurkan untuk mengistirahatkan / meminimalisasi gerakan pada sendi yang terkena , latihan dibawah pengawasan dokter, dan atau Fisioterapi dimulai segera setelah rasa sakit pada sendi berkurang atau minimal. Bila tidak juga berhasil, mungkin diperlukan alat-alat. Karena itu , selain pengobatan rehabilitasi medic untuk penderita juga perlu dilakukan termasuk diantaranya jika penderita menggunakan pemakaian alat bidai, tongkat penyangga, walking machine, kursi roda, sepatu dan alat , Alat ortorik proktetik lainnya ,terapi mekanik , pemanasan : baik hidroterapi maupun elektroterapi , Occupational therapy , bahkan pre dan pasca tindakan Pembedahan.
Kemajuan pengobatan dapat dinilai dengan menggunakan parameter anatara lain lamanya morning stiffness , Banyaknya sendi yang nyeri bila digerakkan , kekuatan menggenggam , waktu yang diperlukan untuk berjalan 10-15, hasil laboratorium, jumlah obat-obat yang digunakan.
Komplikasi yang dapat terjadi anatara lain kelainan system pencernaan yang sangat sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptic yang merupakan komplikasi utama penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) , obat pengubah perjalanan penyakit ( disease modifying antirheumatoid drugs, DMARD) yang menjadi factor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis rheumatoid.
Komplikasi saraf yang terjadi tidak memberikan gambaran jelas, sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikulasi dan lesi neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, RS Islam Jakarta Pondok Kopi telah membuka klinik dengan layanan khusus Rheumatologi dengan jadwal praktek pada setiap Jum’at pukul 08.00 – 11.00 WIB dengan dokter spesialis penyakit dalam konsultan rheumatologi : Dr. Ika Wulan Yuliani yang terintegrasi dengan unit Rehabilitasi Medik sehingga penanganan untuk penderita rematik dapat lebih tepat .
|